Coretan di ruang rindu…

LPI vs LSI

Hari ini, secara resmi LPI (Liga Premier Indonesia) dimulai mesti masih banyak spekulasi akan status LPI sendiri. Meski menjadi tandingan LSI (Liga Super Indonesia) dalam tanda kutip. Namun itu tidak menyurutkan official LPI memulai kompetisi.

Ya, pembukaan yang dilakukan di Stadion Manahan Solo, yang mempertemukan antara Persema dengan Solo F.C. Dengan dimulai dengan beberapa hiburan musik, budaya dalam pembukaannya, LPI memberikan warna tersendiri di sejarah persepakbolaan Indonesia. Liga yang konon kabarnya pesertanya tanpa menggunakan dana APBD. Dan sejumlah hal yang menarik lainnya. Tentu akan menarik untuk dilihat perkembangannya.

Jika melihat pertandingan pembukaan tadi, sepertinya LPI sangat menjanjikan. Sebelum laga dimulai, dinyanyikannya Lagu kebangsaan Indonesia yang kayaknya di LSI tidak dilakukan (semoga tidak hanya awal pembukaan saja yah🙂 ).

Dengan Indosiar sebagai pemegang hak siarnya, tentu akan menaikkan rating mereka. Secara kualitas teknik penyiarannya pun lumayan. Dari segi pengambilan gambar pemain, bola dan lain sebagainya. Meski terkadang masih kaku dalam menyiarkan tayangan ulang (replay).

Dalam pertandingan tadi, kedua tim menunjukkan permainan bersih dan berkelas menurut saya. Permainan kedua tim pun terlihat menarik. Dengan dipimpin wasit yang bagus meski lokal (konon wasit-wasitnya telah ditraining sebelum memimpin pertandingan-pertandingan di LPI). Disitu pun ada beberapa pesan moral yang dapat dijadikan pembelajaran untuk suporter. Sebuah debut yang manis buat LPI deh.

Meskipun dalam hasil akhir, Solo FC kalah 5-1 dari Persema. Mereka bermain bagus. Irfan Bachdim (Persema) pun menunjukan performa yang prima sehingga membawa Persema menang. Mestinya PSSI tahu diri dengan tidak mengutamakan ego pribadinya dengan pemain-pemain yang membela klub LPI. Toh PSSI dahulu pernah memanggil pemain yang belum pernah membela klub liga PSSI namun hanya membela  PSAU, sebuah klub tempat dimana dia mengabdi (korps AU) yaitu Corneles Geddy.

Setelah sore tadi menyaksikan LPI, malamnya saya lihat LSI antara Pelita Jaya vs Deltras. Tapi kok terlihat kontras dengan pertandingan yang sore tadi😦. Pelita Jaya unggul 3-0 dengan Deltras, permainan keduanya kok malah terlihat seperti sepakbola tarkam. Permainan keras yang membahayakan pemain-pemain itu sendiri sering terjadi. Wasitnya pun juga kurang tegas nampaknya. Sangat memprihatinkan.

Jika melihat seperti itu, dan LPI tetap mempertahankan kualitas atau malah meningkatkan kualitasnya. Bukan tidak mungkin LSI akan ketinggalan.  Seharusnya perlu sinkronisasi dan kerjasama untuk meningkatkan persepakbolaan Indonesia jika ingin maju.

One response

  1. Pingback: Drama lanjutan LPI vs LSI « Ruang rindu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s