Coretan di ruang rindu…

Sosok calon pemimpin Nganjuk harapan kita kah, beliau ini?

Ya kalau hanya menuruti “hawa nafsu” saja, tentu kita sebagai manusia senantiasa selalu merasa kurang. Ya kurang banyak, kurang lama, kurang puas, dan kurang-kurang lainnya, yang diakibatkan karena kurang syukurnya kita. Untungnya manusia juga sering membuat pembatasan-pembatasan atas kehendak dirinya, ya melalui diri sendiri juga yang melalui orang lain atau suatu hal. Dan pembatasan itu terkadang bisa menjadi baik atau malah membuat tidak baik. Sebagai pemimpin contohnya, seorang pemimpin bisa membatasi diri untuk menjadi baik dengan bersikap sabar, amanah, menahan diri dari merampas hak yang bukan miliknya, atau bisa jadi malah menjadi kebalikannya.

azkiyatunnafsi.wordpress.com

Sedangkan yang dibatasi melalui oranglain atau oleh sesuatu hal misalkan memimpin suatu daerah hanya dibatasi dengan jangka waktu 5 tahun dengan 2 kali masa jabatan sehingga terjadi pembatasan melalui peraturan. Jadi meski kinerjanya baik atau tidak baik tetap akan mengalami “resiko” untuk kembali “diadu” dengan calon-calon yang ingin memimpin. Resiko itu dipertaruhkan apabila pemimpin lama yang akan maju lagi yang sebenarnya baik tapi kurang bisa mengambil hati masyarakat yang dipimpinnya. Terlebih-lebih muncul calon baru yang lebih menonjol sepak terjangnya dalam memimpin. Dan ada juga pemimpin yang secara perhitungan menurut sebagian orang dianggap kurang baik namun pandai mengambil hati masyarakat lainnya, sehingga terbentuklah kepercayaan, yang otomatis meski ada pemimpin baru yang lebih menjanjikan, pasti masyarakat itu pun sudah tak terpengaruh. Itu karena kebaikan-kebaikan kepercayaan tentang amanah pun memiliki banyak sudut pandang. Sebagaimana hal baik dimata orang pun berbeda-beda. Mungkin kita menganggap seseorang baik di mata kita namun apakah orang lain juga menganggapnya demikian. Bisa jadi orang lain itu memandang dengan pemikiran yang berbeda. Alhasil, ya semua harus legowo, rendah hati, saling menghormati, menghargai pendapat masing-masing pihak. Karena semua didunia ini serba relatif, serba tidak pasti.

Saat ini kita dihadapkan dengan sistem perpolitikan dalam bernegara untuk mendapatkan pemimpin melalui partai politik. Suatu sistem politik bernegara yang wajib kita jalani sebagai warga negara yang baik, di negara yang “mengaku” negara demokrasi ini, meski terkadang pada prosesnya masih tidak sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi yang digembar-gemborkan. Adanya mesin-mesin partai politik (parpol) yang bergerak mencari sumber-sumber penggerak, yang salah satunya bersumber dengan yang namanya uang, yang berasal dari berbagai pemilik modal. Secara tidak langsung, membuat banyak parpol-parpol hanya mencetak dan dicetak pemimpin yang hanya punya modal. Dan akibatnya dalam suatu parpol terkadang, terjadi saling sikut antar anggotanya hanya demi memuluskan tujuan ego pribadi masing-masing orang. Masih amat jarang ditemui pemimpin yang benar-benar pemimpin, yang dihasilkan oleh parpol sejauh ini.

Hal tersebut menghasilkan fenomena yang membuat masyarakat mulai mencari alternatif-alternatif jalan lain mencari pemimpin. Dan salah satunya adalah munculnya fenomena calon perseorangan atau independen, yang saat ini telah diberi ruang. Fenomena yang mungkin awalnya diharapkan untuk “menandingi” cengkaraman parpol yang berorientasi uang dan kekuasaan yang hanya menjadi sasaran para pemilik modal. Fenomena yang saat ini nampaknya mulai bergerak dari pusat merambat ke daerah dan salah satunya di Kabupaten Nganjuk, yang dalam waktu dekat ini juga akan mempunyai hajatan 5 tahunan untuk melakukan pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) nanti jika Tuhan mengizinkan akan dilakukan tanggal 12 Desember 2012. Fenomena yang dipusat, yaitu di DKI Jakarta tepatnya, dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta beberapa waktu lalu itu, ternyata juga membuat pendidikan politik di pelosok ikut memantau dan mengikutinya. Hal ini tentu menjadikan nilai yang positif bagi pengembangan politik di negeri ini, yang kira-kira masih mencari “formula” yang sesuai dengan jatidiri bangsa dalam membentuk model pemerintahan Republik Indonesia, pasca reformasi. Dengan demikian, saat ini masyarakat akan dihadapkan dengan berbagai pilihan, yang semuanya tetap kembali kepada kemampuan kita untuk terus mempelajari siapa-siapa calon yang akan mencalonkan diri tersebut. Masyarakat harus lebih cerdas dan lebih bijak dalam memberikan aspirasinya.

Tentu saja akan menjadi percuma, kalau kita tidak berusaha mencari tahu bagaimana calon pemimpin kita, baik yang melalui parpol maupun dari jalur independen. Akan berujung sama, stagnan, tidak berubah menjadi lebih baik atau bahkan malah lebih parah jika salah pilih. Harapan kita tentu selalu ingin memiliki pemimpin yang jujur, adil, amanah dan dapat dipercaya dalam suasana pemilihan yang tetap damai dan kondusif, sebagaimana sesuai dengan motto Pemilukada Kabupaten Nganjuk 2012 dari KPU Kabupaten Nganjuk yaitu Sarujuk Mbangun Nganjuk yang artinya kurang lebih adalah mufakat dalam membangun Nganjuk, yang akan mengantarkan pada kejayaan yang berkah. Meskipun sebenarnya harapan-harapan masyarakat Nganjuk pun tidak terlalu muluk-muluk untuk kejayaan Nganjuk yang wah. Adalah sebuah tugu Prasasti Jaya Stamba yang juga dikenal dengan Prasasti Anjuk Ladang adalah bukti, bahwa di masa lalu pun Nganjuk pernah jaya berkat perjuangan masyarakatnya untuk mendukung pemimpinnya dan oleh karenanya di Kabupaten Nganjuk ini akan tetap menjadi kabupaten yang gemah ripah loh jinawi. Kabupaten ayem tentrem yang beragama dan berbudaya, kabupaten kecil yang menyimpan berbagai potensi.

Tentu akan lebih baik untuk lebih mendayagunakan potensi yang dimiliki ini, siapa saja yang akan memimpin nanti hendaknya harus berkenalan dulu lagi dengan daerah ini, agar lebih kenal dengan sebenar-benarnya, kenal lebih dekat dengan daerahnya, kenal lebih dekat dengan penduduknya serta kenal dengan kompleksitas masalah serta potensi yang telah ada. Siapa pun mereka, dari mana pun asalnya, calon pemimpin harus tahu kunci ini. Yang pasti, siapa pun pemimpin yang telah terpilih nanti, berarti beliau telah diberikan “mandat ekslusif” oleh Tuhan, beliau telah diberi kesempatan untuk menanam di bumi Anjuk Ladang dan tentu saja juga akan memanen. Entah panennya sekarang atau bisa kelak untuk anak cucu kita yang terselip diantara harapan-harapan itu.

Dan yang jelas kita sendiri harus senantiasa belajar untuk memahami bahwa mengharapkan harapan yang sejati itu hanyalah kepada Tuhan semata. Jadi nanti kita tidak akan terlalu kecewa atau getun kalau kata orang Nganjuk, nggrundel apalagi ngambek jika lagi-lagi beliau yang telah diamanahi Tuhannya untuk memimpin, ternyata tidak benar-benar menjalankan amanahnya dengan baik, tidak sesuai dengan harapan.  Harapan yang mungkin terbawa oleh “nafsu” kita, yang diakibatkan karena memilih tidak dengan hati. Semoga Tuhan senantiasa membimbing hati kita.

Wallahu a’lam.

“Bahagialah orang yang dapat menjadi tuan untuk dirinya, menjadi kusir untuk nafsunya dan menjadi kapten untuk bahtera hidupnya.” -Ali bin Abi Thalib-

 

Sumber gambar :

azkiyatunnafsi.wordpress.com

KPU Nganjuk

Facebook fanspage Nganjuk

diposkan ulang pada kompasiana dengan judul berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s